No comment, kata Ketua Umum Aprisindo, dmeikian berita di Bisnis Indonesia. Emang betul siih, banyak asosiasi udah jemu mengeluh kepada pemerintah bahwa industri di dalam negeri telah atau akan bisa menyaingi indystri dalam negeri, dalam hal ini industri alas kaki.
Kata koran BI, impor alas kaki selama bulan Januari-Agustus 2010 melonjak 78%, dan katanya rata rata adalah produk dengan harga terjangkau dan sudah diproduksi di dalam negeri!
Beberapa hal kiranya perlu dievaluasi lebih jauh disini: pertama, apakah jenis alas kaki yang tersaingi memang yang menjadi produk utama industri dalam negeri? Kalau YA, maka kejadian ini masih bisa diliat sebagai pertandan adanya kelemahan daya saing dan perlu dikaji dimana letak kelemahannya untuk ditingkatkan. Kalau TIDAK maka mungkin sebaiknya industri DN fokus ke produk yang jadi andalan utama. Kayaknya China atau negara manapun tidak ada yang bisa punya industri yang bersaing di semua lini. Masalahnya tinggal bagaimana pemerintah bisa merespon ini dengan "bijak" ...DAN secara "terkoordinasi".
Kedua, menurut berita ini juga, Menteri perdagangan mengatakan ada kenaikan ekspor alas kaki Indonsia 33%, dan kayaknya dikatakan tujuan ekspor utamanya ke Amerika. Sayangnya pangsa pasar alas kaki Indonesia dipasar AS cuma 2.5%. Walau tidak secara detil dikatakan alas kaki macam apa yg bisa menguasai pangsa pasar 2.5% di AS, tetapi ini indikasi kuat bahwa alas kaki jenis itu punya daya saing cukup tinggi. Apalagi kalau ternyata jenis alas kaki ke AS adalah yang kualitas "lebi tinggi" dibanding jenis alas kaki Cina yang menguasai pasar Indonesia, maka ini perlu jadi perhatian mendalam pemerintah karena Indonesia ternyata punya daya saing hebat di AS mengingat pesaing di AS tentu banyak sekali.
Jadi KESIMPULANNYA? Kayaknya industri alas kaki Indonesia jangan terlalu cepat "kecil hati"; kalau belum maka sebaiknya segera membuat kajian yang lebih dalam untuk mengatahui antara lain bbrp hal diatas. Tapi pemerintah juga harus lebih "responsif"; kurangi kebiasan hanya mengurus pemasaran dengan berbagi pameran dan meningkatkan daya nalar para pejabatnya, mendekati cara berpikir pengusaha/indstriawan, dan mengeluarkan kebijakan yang lebih terarah secara "berkesinambungan" (artinya berjangka menengah). Semoga ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar